Dawai Cinta dan Persahabatan part 6


Bukan Salahku
“Ray, kenapa kamu nggak menggagalkan rencana cowok itu?” tanya kedua sahabatnya itu bingung. Katanya ingin menghalangi gerak si Frans dan teman segenknya tapi kok malah membiarkan cowok itu merayu cewek. Apa dia akan membiarkan cewek yang ditaksirnya selama dua tahun itu jatuh ke dalam pelukan cowok play boy itu?
“Kalian tenang saja. Nikmati saja pertunjukannya,” jawab Ryan dengan senyum yang aneh.
“Maksudmu… kita hanya berdiam diri saja. Nggak melakukan apa-apa. Ngapain juga kita kemari kalo hanya untuk melihat pertunjukan si Frans merayu cewek,” rutuk Fred.
“Aku nggak akan membiarkan Frans menggaet cewek yang kuimpikan,” jelas Ryan.
“Tapi nyatanya kamu cuma diam saja,” cetus Fred.
“Tenanglah, Fred! Serahkan saja semua sama Ryan,” bujuk Andre menenangkannya.
“Baiklah. Kalo nggak menarik, aku cabut aja deh!” ucapnya. Dia mulai dirasuki rasa penasaran oleh sikap Ryan yang terlihat sangat tenang. Kejutan apa yang akan diberikan oleh cowok itu?
***
“Apa nanti malam kamu ada waktu?” tanya Frans pada cewek itu
“Aku rasa tidak.”
“Kalau lusa?”
“Ntar deh aku pikirin.”
“Ngapain kamu di sini?” labrak seorang cewek yang tahu-tahu telah berada di tengah-tengah mereka. Cewek itu menatap Andin dengan penuh kebencian.
“Maaf, Ren. Nggak seharusnya kamu mencampuri urusanku.
“Justru kamulah yang nggak seharusnya melakukan semua ini!” ucap Reni sinis.
“Apa maksudmu? Memangnya apa salahku?” tanya Andin bingung. Dia tidak mengerti mengapa cewek yang ada di hadapannya itu tiba-tiba melabrak dirinya. Rasanya dia tidak melakukan kesalahan apa-apa.
“Kamu telah merebut Frans dari tangan Leni, teman sekelasmu sendiri. Kamulah penyebab keretakan hubungan di antara mereka,” tudingnya.
“Bukan aku penyebabnya,” sangga Andin. Dia nggak pernah merebut Frans dari tangan Leni justru cowok itu yang datang untuk menggodanya. Mana mungkin dia akan melakukan hal yang serendah itu.
“Mana ada orang salah yang mau mengakui perbuatannya. Begitu juga denganmu!” Reni tersenyum sinis.
“Terserah apa katamu, Ren. Aku nggak ada kaitannya dengan keretakan hubungan di antara mereka berdua. Kalo kamu nggak percaya, itu bukan urusanku lagi,” Andin beranjak dari tempatnya untuk menghindari hal buruk yang mungkin akan terjadi nanti. Dia tidak mau beradu mulut dengan cewek itu hingga menyebabkan pertengkaran yang besar. Namun Reni yang sedang dirasuki amarah itu menarik paksa lengannya.
“Kamu jangan menghindar dari masalah!”
“Kamu nggak memberikan pilihan lain untukku,” ujar Andin membela diri.
“Akui saja!”
“Nggak,” Andin bersikeras.
Frans yang menyaksikan perang mulut yang semakin memanas itu menggeleng pelan.
“Sudah-sudah, kalian jangan ribut!”
“Diam…!” perintah mereka. “Jangan ikut campur.
“Terserah apa mau kalian,” Frans menjauh dari mereka. Dia sangat kesal lantaran kencan manis yang diimpikannya kini telah sirna sudah. Kalo begini terus, bisa-bisa dia nggak akan bisa dapetin pujaan hatinya. Oh, pujaan hatiku! Di mana kiranya engkau berada? Tiadakah kau rasai rindunya hati ini nan slalu menantikan hadirmu di sisi. Bukalah tabir dirimu! Peluk daku dalam hangat cintamu..!
“Akui saja kesalahanmu!”
“Nggak.”
“Apa kamu ingin memaksaku menggunakan kekerasan?!” Reni sangat geram sekali karena Andin nggak juga mau mengakui kesalahannya.
“Terserah apa maumu.”
Andin dan Reni saling menyerang dengan kekuatan penuh. Kelincahan tangan dan kaki mereka saling beradu.
Satu-persatu anak-anak Pelangi mulai membanjiri tempat itu. Menikmati pertunjukan yang sangat mengagumkan itu. Pertunjukan para pemimpin genk dari kelasnya pangeran.
***
“Kenapa anak-anak Pelangi berkerumun di sini?” Lya bertanya-tanya. “Apa yang telah terjadi?”
“Ntahlah,” kata Linda. Coba kita tanyakan saja pada mereka, Lya!”
“Maaf, Kak! Apa yang telah terjadi?” tanya Lya pada salah seorang di antara mereka.
“Ada dua anak cewek yang sedang berkelahi,” jawabnya.
“Apa kira-kira penyebabnya?”
“Aku juga nggak tahu.”
“Terima kasih, Kak.”
“Sama-sama.”
“Hi, semuanya!” sapa seorang cewek yang masih terengah-engah.
“Hi, juga. Ada apa, Tya?”
“Tadi ada dua anak cewek yang mencarimu, Lin.”
“Siapa?”
“Aku nggak tahu.”
“Nanti kita akan menemui mereka. Sekarang kamu Bantu kami untuk melerai mereka!”
“Baik.”
Bersama-sama mereka menuruni jalan yang berumput itu lalu mereka berhenti di depan kedua cewek itu.
“Ya ampun…! Andin, Reni apa yang kalian lakukan?” Lya dan Tya ternganga menyaksikan kedua sahabatnya yang tengah berkelahi itu. Namun mereka tak menghiraukan kedua sahabatnya itu dan masih sibuk berkelahi.
“Aku mohon hentikanlah perkelahian ini!” teriak Linda memecah ketegangan. Meski tidak mengenal kedua cewek itu namun dia sangat sedih menyaksikan perkelahian itu. Dia memang anak baru di sini jadi wajar saja kalo dia tidak mengenal semua anak-anak Pelangi yang ada.
“Cepatlah menjauh dari sini, Nona. Nanti kamu bisa terluka!” Andin sibuk menangkis serangan yang mendarat ke arahnya dengan tangan kanannya. Sedangkan tangan kirinya menggenggam pergelangan tangan Linda dan berusaha membawanya menyingkir dari tempat itu.
“Pergilah dari sini! Kamu nggak ada hubungannya dengan semua ini!” perintah Reni pula.
“Kalian jangan keras kepala. Kalo ada masalah, selesaikanlah dengan baik-baik!” bujuk Linda.
“Apa yang dia katakana itu benar. Berhentilah kalian sekarang juga!” seru Lya dan Tya pula. Namun mereka tetap tidak mau peduli. Masih terus berkelahi.
“Kalian berdua raihlah cewek itu. Aku akan meraihnya!” perintah Linda.
Mereka pun mulai menjalankan rencana mereka untuk melerai perkelahian itu.
“Hup…!” Linda berusaha meraih lengan Andin namun dia tidak berhasil melakukannya lantaran gerakan cewek itu yang sangat cepat dan lincah. Dia bahkan sampai kalang kabut dibuatnya.
Lya dan tya yang hampir saja berhasil meraih Reni mengurungkan niatnya kala mereka melihat Linda yang tersungkur kesakitan lantaran terkena pukulan nyasar.
“Kamu baik-baik saja, Lin?” tanya mereka khawatir.
Linda mengangguk sembari memegangi perutnya yang masih nyeri.
“Lebih baik kita cari bantuan saja untuk menghentikan mereka!” saran Tya yang segera disetujui oleh mereka.
Lya mengedarkan pandangannya. Dilihatnya seseorang yang tidak jauh dari tempatnya berada. Dia pun segera menghampirinya untuk meminta pertolongan padanya.
“Bantu kami untuk melerai mereka, Frans!” pintanya.
“Maafkan aku, Lya. Aku nggak bisa membantumu,” tolaknya halus.
“Kenapa?”
Frans hanya diam saja.
“Apa kamu penyebabnya?”
Frans diam, lalu berujar lirih.
“Semua masalah itu hanya berawal dari kesalah pahaman belaka.”
“Salah paham?”
“Aku memutuskan untuk berpisah dengan Leni. Reni kira Andin penyebabnya,” jelasnya.
“Mengapa kamu memutuskan Leni?”
“Dia bukan cewek yang aku idamkan.”
“Aku mengerti perasaanmu. Tapi, nggak seharusnya kamu melukai perasaannya, Frans.”
Frans hanya termangu. Tidak bisa berkata apa-apa.
“Semoga kamu dapat menemukan cewek yang kamu impikan selama ini. Tapi... kuharap bukan dengan cara melukai hati yang lain lagi,” hibur Lya yang tidak tega melihat wajah sahabatnya yang sangat sendu itu. Meski Frans badungnya minta ampun tapi dia itu seorang sahabat yang sangat setia. Tidak pernah sedikitpun cowok itu melukai perasaannya, apalagi sampai menjadikannya sebagai kelinci percobaan dalam cerita cintanya.
Frans tersenyum hambar. Dia hanya bisa memandangi kepergiaan Lya yang hendak menemui teman-temannya.
“Bagaimana, Lya?” tanya mereka.
“Kita cari cowok yang lain aja deh!”
“Baiklah.”
***
“Darimana kamu dapatin ide secemerlang itu, Ray?” tanya Fred dalam keterkagumannya.
“Dari kabar burung yang aku dengar.”
“Frans dan Leni putus?” Fred terbelalak. “Itu nggak benar kan?”
“Itu benar. Emang kamu nggak tahu?” Ryan menatap sahabatnya itu dengan tatapan yang aneh. Masa kabar segempar itu Fred sampai nggak tahu sih! Kayak anak kuper amat.
“Aku tahu. Cuma kukira itu hanya isapan jempol belaka,” jawab Fred yang membuat Ryan jadi lega karena sahabatnya itu nggak seperti apa yang dia kira. “Kenapa mereka putus?”
“Katanya sih ada orang ketiga,” Ryan melirik Andre yang masih terguncang-guncang menahan tawa. “Aku yakin kok Andin bukan penyebab keretakan di antara mereka. Sebab di hatinya telah terukir nama yang lain.”
“Siapa?”
“Aku,” jawab Ryan dengan pedenya.
“Hah…sejak kapan kamu jadi paranormal, Ray?” Fred terkekeh.
“Aku bukan paranormal, tahu,” sungut Ryan.
“St… ada cewek cakep kemari tuh! Siapa ya? Kayaknya anak baru deh!” Fred mulai kumat lagi penyakit lamanya. Andre menggeleng pelan melihatnya.
“Oke juga tuh cewek. Nggak kalah cakep dari si Andin,” ujar Ryan sembari melihat cewek itu lekat-lekat. Dia seolah mendapat angin segar dengan kehadiran cewek itu. Siapa tahu kan cewek itu akan jadi pelabuhan hatinya yang terakhir.
“Cewek sekalem itu juga mau kalian ganggu!” cetus Andre yang sangat kesal melihat ulah mereka.
“Katanya kamu ingin kami mencari cewek yang baik-baik.”
“Tapi bukan untuk kalian ganggu.”
“Lalu untuk dijadikan apa?” tanya mereka bingung.
“Ya untuk dijadikan pendamping hidup.”
“Hah…! Kami kan masih kuliah, Dre. Masa disuruh nikah sih!” protes Fred.
“Kalo aku sih nggak masalah. Tapi yang jadi soal, apa dia mau?!” kata Ryan dengan riangnya yang bikin kedua sahabatnya itu terbelalak. Setahu mereka Ryan tuh naksirnya sama si Andin tapi kok mau-maunya nikah sama cewek lain. Cinta macam apa itu?
“Katanya, kamu suka sama Andin?” sidik Andre.
“Benar. Tapi poligami kan diperbolehkan,” jawab Ryan sembari tersenyum nakal.
“Dasar play boy gadungan!” Andre dan Fred serempak meninju perutnya. Ryan pun meringis kesakitan.
“Permisi, boleh nggak kami mengganggu waktu kalian sebentar?!”
Suara Linda yang sangat santun sekali itu benar-benar membuat mereka terpana. Tapi seperti biasanya, Ryan mulai membuat ulah dengan menggoda cewek manis itu.
“Tentu saja boleh. Mana mungkinlah aku menolak permintaan dari calon istriku. Katakan saja apa yang kamu inginkan, sayangku. Jangan malu-malu padaku!” ujar Ryan sembari mengerlingkan matanya. Temannya-temannya terbelalak.
Nih cowok sinting kali ya? batin Linda. Kenal aja nggak udah ngomongin yang macam-macam. Sayang sekali, cakep-cakep tapi kok abnormal sih!
“Aku tahu apa yang kamu pikirkan, Sayang. Kamu pasti nggak sabar lagi ingin memadu cinta dengan cowok sekeren aku bukan?!”
Andre sangat malu sekali melihat ulah sahabat baiknya itu. Rasanya dia ingin menghilang saja dari muka bumi. Berbeda dengan dia, Fred malah kagum akan keberanian Ryan yang berani mengutarakan isi hatinya tanpa malu-malu. Sementara Lya dan Tya hanya menggeleng melihat ulah cowok play boy itu.   
“Maaf, kurasa kamu salah sangka padaku. Aku kemari hanya untuk meminta bantuanmu melerai kedua cewek yang sedang berkelahi di sana,” jelas Linda pada cowok itu.
“Mengapa kamu harus ambil pusing dengan urusan mereka? Lebih baik kita bersenang-senang menikmati pagi nan cerah ini,” bujuk Ryan manis.
“Apa aku nggak salah dengar nih? Kamu membiarkan mereka?!” Linda terhenyak.
“Mengapa juga aku harus ambil pusing dengan urusan orang lain kalo urusanku sendiri masih banyak?!” kata Ryan membela diri.
“Ada beribu-ribu hal yang membuatku merasa kasihan pada seseorang. Tapi, aku nggak pernah menemukan seseorang yang patut untuk dikasihani daripada kamu. Punya kemampuan tetapi nggak mau mempergunakannya untuk kebaikan. Benar-benar sangat disayangkan!” kata Linda sebelum berlalu dari hadapan mereka yang membuat Ryan tidak mampu berkata-kata.
“Rasain kamu, Ray!” Lya dan Tya tertawa. Lalu kedua cewek itu menyusul Linda untuk membantunya melerai perkelahian antara Andin dan Reni.
“Aku nggak mengira, kamu bisa jatuh…” tawa Fred meledak seketika.
“Terus ditimpa tangganya pula…,” sambung Andre terpingkal-pingkal.
“Kalian jangan senang dulu. Mana mungkinlah aku kalah sama anak cewek. Aku hanya mengalah saja…,” pungkir Ryan. Padahal aslinya dia emang beneran KO.
“Udah, ngaku aja deh…!” mereka semakin terpingkal-pingkal.
Ryan nggak memperdulikan ledekan dari kedua sahabatnya itu. Pikirannya justru mengembara ke mana-mana. Siapa sih cewek itu? Belum pernah dia bertemu dengan cewek yang mampu memberikan kesan yang sangat dalam di hatinya seperti cewek itu. Mau apa dia bergabung dengan anak-anak Pelangi?
“Sepertinya kita harus menghentikan mereka sebelum korban mulai berjatuhan, Ray!” saran Andre.
“Baiklah. Kamu, Fred?”
“Aku setuju dengan kalian. Lagipula aku sudah puas menyaksikan si Frans yang nggak berdaya itu.”
“Apa yang telah menimpa Frans patut kita jadikan pelajaran…” kata Ryan sengaja menggantungkan kalimatnya.
“Jangan main tanpa perhitungan kalo tak ingin kencan yang kamu impikan jadi berantakan…” seru mereka terpingkal-pingkal.
“Ayo, kita bantu mereka!” komando Ryan yang disetujui oleh kedua sahabatnya itu.
“Oke.”
Mereka menuruni jalan yang terpentang di hadapan. Lambaian angin nan spoi-spoi menerpa wajah mereka yang sangat berseri-seri. Sementara Frans yang melihat akan kedatangan mereka melotot tajam dari kejauhan seolah-olah hendak melumatkan mereka. Dia pun beranjak dari tempatnya untuk menemui mereka.
“Ngapain kalian ke mari?” tanya Frans dengan nada tinggi sekali.
“Kami ingin membantu untuk meleraikan mereka berdua,” jawab Ryan nyaris tanpa beban.
“Bukannya tadi kamu nggak mau membantu?” semprot Tya.
“Itu beberapa menit yang lalu. Sekarang dia sudah berpindah haluan,” jelas Andre turut membela sahabat baiknya itu.
“Kamu yakin bisa mengatasinya?” sidik Linda.
“Jangan khawatir, Put. Dia pasti bisa membereskan semuanya,” kata Fred menyakinkan.
“Baiklah, kami akan memberimu kesempatan. Tapi jika kamu nggak mampu, lebih baik kamu angkat kaki saja dari sini!” seru Linda dengan nada yang sangat tegas.
Mereka terbelalak.
“Dengar ya, nona manis. Di sini nggak ada seorangpun yang berani macam-macam denganku. Tapi, kamu berani sekali menyuruhku angkat kaki dari sini padahal kamu hanya anak baru. Memangnya siapa kamu?!” Ryan tersenyum sinis.
“Aku memang bukan siapa-siapa. Tapi, ada satu hal yang perlu kamu tahu…aku nggak takut dengan ancamanmu itu. Jadi lebih baik kamu camkan kata-kataku itu baik-baik!”
Kata-kata itu membuat Ryan dan para sahabatnya ternganga. Ternyata masih ada juga anak cewek yang nggak takut dengan dirinya. Cowok itu bergegas menemui Andin dan Reni yang masih sibuk berkelahi.
Sepeninggal cowok itu mereka terpingkal-pingkal.
“Apa yang kalian tertawakan?” tanya Linda heran.
“Ryan. Kami nggak mengira kalo dia akan bertekuk lutut di hadapanmu,” jawab Andre mewakili teman-temannya.
“Kamu pasti cewek yang sangat istimewa di hatinya,” puji Lya.
“Kamu benar, Lya. Aku merasa Ryan sangat berbeda dari biasanya. Kenapa ya tiba-tiba dia jadi berubah seperti itu?” tanya Tya heran.
“Oh ya, aku ingat sekarang…!” Fred tersenyum sembari menjelintikkan jarinya. “Dia ingin married sama… Putri!”
Mereka terbelalak mendengarnya. Ada di antara mereka yang senang mendengar kabar itu dan ada pula yang merespon sebaliknya pula.
    

Komentar